Generasi “DAJAL” (Dangdut Jalanan), Citra Buruk bagi Promosi Wisata NTB

Dalam setiap masyarakat, adat dan tradisi merupakan unsur penting yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika kehidupan suatu masyarakat. Adat memegang peranan penting sebagai sarana untuk menjaga eksistensi masyarakat tersebut. Ketika suatu masyarakat memiliki adat dan tradisi maka itu akan menjadi ciri khas atau karakter yang menjadi pembeda masyarakat itu dengan masyarakat yang lain. Kemampuan untuk menjaga dan memelihara adat dan tradisinya, menjadi modal utama bagi keberlangsungan hidup suatu masyarakat. Jika anggota masyarakat tidak mampu mememelihara dan menjaga nilai-nilai luhur yang terdapat pada adat dan tradisinya maka mereka akan hanyut oleh arus perubahan dan perkembangan zaman. Dan sebaliknya, jika anggota masyarakat mampu bertahan dan menyesuaikan diri “tanpa” menghilangkan nilai-nilai luhur budayanya maka masyarakat tersebut akan semakin eksis dan memiliki nilai jual.

Pulau Bali, adalah salah satu wilayah Indonesia yang selalu mempesona dunia, bahkan konon “BALI” lebih dikenal oleh masyarakat dunia dari pada “INDONESIA”, padahal Bali hanya sebagian kecil dari keseluruhan luas wilayah Indonesia. Keindahan alam pulau Bali memang menjadi daya tarik yang mengundang jutaan orang untuk datang berkunjung ke sana. Selain itu keanekaragaman budaya dan adat di sana menjadi nilai tambah tersendiri dan selalu menyedot perhatian para wisatawan lokal maupun mancanegara. Jadi, kesan yang didapatkan para wisatawan ketika berkunjung ke Bali mendapat nilai ganda selain mempunyai pesona alam yang indah. Bali juga memiliki kekayaan budaya yang menarik dan masih orisinil. Hal itu karena masyarakat Bali masih kuat menjaga adat dan tradisi budayanya serta mampu menyesuaikan diri dari arus budaya luar.

Jika ingin berbicara jujur sebenarnya dari sekian banyak potensi wisata di Indonsia, bukan hanya Bali yang bisa mempesona dan memanjakan para wisatawan dengan keindahan alam dan budayanya. Di daerah kita sendiri Nusa Tenggara Barat misalnya, lebih khusus lagi di Pulau Lombok ada banyak sekali potensi wisata alam maupun budaya yang luar biasa unik dan indah. Bahkan dengan keindahan alam yang luar biasa sering muncul celetukan orang, “Apa yang ada di Bali pasti ada di Lombok, tapi tidak semua yang ada di Lombok terdapat di Bali” Sekalipun itu hanya sebuah guyonan tapi ada benarnya juga. Karena Lombok memang menyimpan potensi alam dan budaya yang luar biasa bahkan bisa melebihi Bali, namun belum begitu dikenal luas seperti Bali.

Jika dibandingkan antara wisata pulau Bali dan Lombok, memang kita masih harus banyak belajar dari pulau Bali terkait pengelolaan maupun promosi wisatanya. Dalam beberapa tahun terakhir, geliat perkembangan pariwisata Nusa Tenggara Barat mulai tampak dengan usaha dan kerja keras yang serius dari pemerintah daerah. NTB bisa menjadi salah satu destinasi tujuan wisata yang di dukung dengan telah beroperasinya Bandara Internasional Lombok, maka arus wisata domestik maupun mancanegara semakin banyak datang. Di tengah geliat perkembangan wisata NTB, sudah semestinya pemerintah daerah dan seluruh masyarakat memberikan perhatian serius terhadap semua elemen yang terkait dengan perkembangan pariwisata, karena hal sepele saja bisa berdampak buruk bagi promosi wisata NTB kedepannya.

Dari sekian banyak potensi wisata Nusa Tenggara Barat, wisata budaya atau adat sepertinya perlu mendapatkan perhatian lebih. Bukan bermaksud mengabaikan potensi wisata yang lain karena semua objek wisata itu penting, namun wisata budaya memegang peran kunci terutama bagi promosi pariwisata kedepannya. Wisata alam memang perlu mendapat perhatian, namun keindahan alam kita yang luar biasa mungkin yang diperlukan hanya terkait masalah pengelolaan kebersihan dan fungsi fisik. Berbeda dengan wisata budaya yang harus dikelola secara khusus karena itu menjadi wajah pariwisata kita.

Salah satu wisata budaya yang selalu menjadi pusat perhatian para wisatawan adalah tradisi nyongkolan/nyondol atau dalam logat lain disebut nyombe. Tradisi nyongkolan merupakan satu rangkaian kegiatan adat suku sasak dalam prosesi perkawinan. Nyongkolan diadakan dengan melakukan arak-arakan/iring-iringan kedua mempelai dari rumah pengantin pria ke rumah pengantin wanita dengan diiringi para keluarga dan kerabat dengan berpakaian adat serta diringi pula dengan rombongan musik tradisional yaitu Gendang Beleq, Kelenang (gamelan) atau Kecimol.

Dalam beberapa tahun terakhir tradisi ini mengalami pergeseran yang sangat jauh dari sebelumnya. Perubahan yang paling terasa adalah pada rombongan musik yang mengiringinya. Perkembangan masyarakat menjadikan musik tradisional ini mulai ditinggalkan, mungkin karena biaya yang dibutuhkan untuk menyewa kelompok musik ini cukup tinggi sehingga masyarakat cenderung memilih yang instan. Secara perlahan kelompok-kelompok musik tradisional Gendang Beleq dan Kelenang mulai meredup, satu yang mampu bertahan adalah Kecimol itu pun setelah mengalami berbagai percampuran dan penyesuaian dengan musik-musik modern.

Sebelumnya, mungkin jarang yang mengetahui sejarah dari musik kecimol. Kecimol merupakan kombinasi dari gendang beleq yang dimainkan bersama dengan organ dan suara suling. Dari salah satu sumber disebutkan bahwa kecimol itu merupakan singkatan dari (Kesenian Cilokaq Masbagik Orong Lauq). Dulu sekitar tahun 80-an musik kecimol muncul di Masbagik dan pada mulanya digunakan untuk memanggil masyarakat bergotong-royong di masjid. Jadi ketika musik kecimol mulai dimainkan masyarakat akan berduyun-duyun datang ke masjid untuk gotong royong dan memberi sumbangan. Seiring dengan perkembangan waktu musik kecimol digunakan pula untuk tradisi nyongkolan yang masih sering kita lihat samapai sekarang.
Namun, seperti yang sebelumnya saya ungkapkan bahwa kecimol yang ada sekarang ini sudah jauh menyimpang dari generasi sebelumnya, baik dari segi instrument, warna musik maupun lagu yang dinyanyikan. Perubahan yang terjadi pada musik kecimol ini menjadikan musik ini asing dan jauh dari nilai dan karakter ke”sasak”an. Sehingga pada kesempatan ini saya lebih nyaman menyebutnya sebagai Generasi Dajal (dangdut jalanan).

Kembali membahas pariwisata, menurut saya keberadaan tradisi nyongkolan dengan diiringi musik dajal ini sangat berpengaruh besar terhadap citra pariwisata NTB. Geliat pariwisata yang mulai merangkak naik ini jika tidak diperhatikan maka dengan seketika bisa turun secara drastis dan salah satu sebabnya adalah penyajian wisata budaya nyongkolan dengan kecimol yang memiliki banyak sisi negative.

Contoh sederhana, saat ini arus wisata menuju NTB sudah terasa semakin meningkat, keberadaan BIL salah satu faktor pendukungnya. Secara otomatis intensitas dan mobilisasi turis terutama mancanegara untuk menemukan titik wisata di NTB menjadi lebih padat, sehingga ketika pada suatu waktu, biasanya pada akhir pekan banyak sekali iring-iringan pengantin yang melaksanakan tradisi nyongkolan dengan diikuti musik kecimol. Hal inilah yang kemudian sangat menggaggu kelancaran arus lalu lintas dan menyebabkan kemacetan yang panjang, ditambah lagi kesan budaya hura-hura dan bergoyang sambil menyanyikan lagu yang tidak jelas. Sungguh sama sekali tidak mencerminkan budaya NTB yang sopan santun dan berbudi luhur.
Mungkin terlihat sepele tapi coba bayangkan dampak yang muncul akibat dari kondisi tersebut. Image negative yang dikesankan di hati para turis terutama mancanegara tentu akan mempengaruhi tingkat kunjungan mereka untuk datang kembali ke daerah kita. Tentu sangat disayangkan karena pergerakan progres wisata yang mulai bangkit harus menurun lagi karena dirusak oleh masyarakatnya sendiri. Dimana masyarakat tidak paham akan nilai-nilai kearifan lokal yang memiliki nilai jual tinggi dimata para wisatawan. Oleh karena itu, mari kita bersama saling rangkul dan bergandengan tangan untuk memajukan daerah kita sebagai salah satu destinasi wisata dunia.

Ditulis Oleh : Unknown ~ DosoGames

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Generasi “DAJAL” (Dangdut Jalanan), Citra Buruk bagi Promosi Wisata NTB yang ditulis oleh sahabat kelor yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di sahabat kelor

0 comments:

Post a Comment

Back to top